Skip to main content

Pantun Biasa



Nelayan pergi dengan perahu                            
Terlihat perahu berbaris-baris                                        
Kasihilah anak Yatim Piatu                             
Bersedekahlah dengan ikhlas  


Pagi-pagi ikut ibu ke pasar                             
Jangan lupa membeli kedelai                                
Kalau kamu rajin belajar                                     
 Cita-cita pasti tercapai


Perahu sedang berlabuh
Pemburu sedang berburu
Berilah tanpa pandang buluh
Supaya orang menghargaimu

Pergilah ke tepi kali
Jangan lupa bawa guci
Bangkitlah anak pertiwi
Bangunlah negerimu ini

Jika kita pegang kuas
Melukislah pada kertas
Jika anak bangsa cerdas
Bangsa pun berkualitas

Jalan-jalan ke pelosok negeri
Siapa saja bakal kesana
Ibu selalu banyak memberi
Mengajarkan anaknya tuk berjasa
 

 


Text Box: PANTUN B.Indonesia                                                 Marchella Steffy H/16/XIA2

Comments

Popular posts from this blog

Literasi Novel Supernova - Inteligensi Embun Pagi

       Berbekal petunjuk dari pria bernama Amaru yang menemuinya di Cusco, Gio berangkat ke Lembah Suci Urubamba. Di sana, ia dijemput oleh Chaska Pumachua, ibu sahabatnya. Chaska memperkenalkannya kepada seorang syaman bernama Luca alias Smoking Sun. Luca ternyata telah menyiapkan upacara Ayahuasca bagi Gio. Pertemuan Gio dengan Madre Ayahuasca di alam spirit memberikannya petunjuk baru tentang siapa identitas Gio sebenarnya sekaligus misi yang diembannya. Dari Madre Ayahuasca pula, Gio tahu bahwa Indonesia akan menjadi tempat pertemuannya dengan orang-orang yang ia cari.         Sementara itu, di Bandung, Elektra yang sempat gentar untuk membantu Bodhi untuk memasuki Asko akhirnya berubah pikiran. Elektra mengajak Bodhi menemui mentornya, Sati. Di luar harapan, Elektra justru jatuh sakit. Bodhi merasa bersalah dan berjanji untuk tidak akan meminta bantuan mereka lagi.         Di perjalanan pesawat dari New York bersama Alfa...

Literasi Novel Supernova - Petir

       Di Kota Bandung, seorang anak sebatang kara bernama Elektra Wijaya, baru saja kehilangan segalanya. Elektra kehilangan ibunya sejak lama, dan ayahnya baru-baru saja. Kakaknya, Watti, menikah dan pindah ikut suaminya ke Tembagapura. Elektra sendirian mengurus rumah besar dan berantakan peninggalan Wijaya Elektronik, usaha ayahnya yang tidak menguntungkan. Elektra bertahan hidup dari celengan yang ia kumpulkan sejak kecil. Pilihan terakhir adalah menjual rumahnya. Dan, Elektra masih mencoba bertahan. Ia menjajaki berbagai pilihan mitra bisnis, dari mulai MLM sampai toko roti, tapi tidak ada yang berhasil.         Sebuah surat kaleng datang satu hari. Sebuah institusi pendidikan gaibmenawarinya posisi dosen. Awalnya, Elektra ketakutan, tapi karena terpepet ingin cari kerja, ia berubah pikiran. Surat kaleng itu akhirnya membawa Elektra berkenalan dengan Ibu Sati, seorang pemilik toko barang-barang ritual, yang memberi perhatian ekstra kepada E...

Latihan Paduan Suara SMAK PENABUR Cirebon

       Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-72, siswa-siswi kelas XI dan XII  SMAK PENABUR Cirebon menjadi bagian dalam upacara peringatan 17 Agustus tingkat Kota Cirebon sebagai tim paduan suara.       Sebelum hari pelaksanaan upacara, tepatnya hari Selasa, 15 Agustus 2017 siswa-siswi tersebut mengikuti gladibersih upacara di Alun-alun Kejaksan. Siswa-siswi tersebut berjalan kaki dari sekolah sampai ke Alun-alun Kejaksan dengan tertib. Setelah tiba disana, mereka berkumpul di Rumah Jabatan Bupati Cirebon menunggu gladibersih penutupan upacara dimulai.      Saat gladibersih akan dimulai, siswa-siswi tersebut memasuki Alun-alun Kejaksan dan mereka langsung berbaris rapi pada posisinya. Setelah giliran mereka tiba, mereka menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hari Merdeka(17 Agustus 1945) dengan lantang dan semangat. (msh)