Belajar
Dengan Hati
Belajar
adalah kata yang sering didengar oleh saya sebagai murid sekolah. Terutama saat ulangan harian, ulangan akhir semester, ujian sekolah, dan ujian nasional tiba.
Apalagi saya sedang duduk di bangku kelas 3 SMP ini yang mengharuskan untuk
selalu belajar lebih giat lagi sehingga menghasilkan kelulusan yang baik.
Tetapi dalam usaha belajar tersebut, ada hal - hal yang mendorong saya untuk
belajar sungguh - sungguh atau malah sebaliknya.
Menurut
saya, belajar dengan hati yang sedang sedih atau gembira tentu berbeda karena
itulah yang saya alami. Ketika hati sedang gembira maka belajar pun akan
terbawa menjadi menyenangkan dan akibatnya sudah pasti pelajaran jauh lebih
mudah diserap oleh otak. Jika hati sedang sedih dan kesal, tentu belajar sudah
didominasi dengan mood yang tidak enak.
Ketika
di dalam kelas yang sedang kegiatan belajar mengajar, saya selalu bisa belajar
dengan hati apabila suasana hati saya sedang senang atau gembira dan ketika
mata pelajaran yang sedang diajarkan bisa ditangkap dengan jelas oleh saya. Apalagi
mata pelajaran tersebut yang disukai dan disenangi oleh saya. Selain itu, guru
yang mengajar pun tidak killer atau galak sehingga terjaring komunikasi antara
guru dengan murid pun baik. Juga dengan suasana kelas yang nyaman dan tenang, pikiran
dan hati terbawa menjadi segar dan damai.
Jika
saya belajar tidak memakai hati tentu perasaan sedang tidak baik dan juga ada
hambatan dalam proses belajar. Seperti terbawa emosi karena nilai ulangan tidak
bagus, sedang bermusuhan dengan teman, sedang kesal dengan banyaknya tugas yang
diberikan guru, sedang ada masalah keluarga, dan lain-lain .
Dan juga ada faktor lain, seperti kelas yang berisik
jika tidak ada guru sehingga terbawa untuk ikutan berisik dan tidak mengerjakan
tugas yang diberikan guru, teman yang mengajak ngobrol saat guru menjelaskan
materi, ngantuk karena suasana yang mendukung untuk tidur, malas karena capek,
sakit, dan lain-lain.
Ketika
di rumah, waktu untuk belajar saya itu memang berkurang karena banyak tugas rumah
yang harus dikerjakan. Sehingga saya menganggap untuk urusan belajar menjadi
hal kedua bagi saya. Tetapi tugas rumah tidak menjadi penghambat bagi saya
untuk waktu belajar saya, asal bisa belajar dengan keinginan hati nurani untuk
disiplin dan mandiri tentu bisa membagi keduanya dengan baik.
Beberapa hambatan yang dapat mengurangi waktu
belajar saya saat di rumah atau luar sekolah pun tentu ada, seperti menomorsatukan
yang namanya handphone apalagi dilengkapi dengan fitur BBM (Blackberry
Messenger) yang memungkinkan mengobrol dengan teman lebih lama, bermain game di
komputer tanpa membatas waktu, diajak teman bermain ke mall, menonton TV saat
waktu belajar, dan lain-lain.
Akibat
dari hal – hal tersebut yang saya alami adalah tidak bisa mengerjakan soal ulangan
dengan baik sehingga mengerjakannya pun asal – asalan atau tidak dengan hati
tetapi dengan emosi, pasrah, dan putus
asa. Akhirnya mendapat nilai ulangan yang kurang memuaskan walaupun diatas
nilai KKM atau yang seharusnya saya bisa mendapat nilai sembilan ternyata hanya
bisa mendapat nilai delapan. Dan juga, prestasi belajar di sekolah pun menurun
sehingga mengecewakan orang tua terutama diri sendiri serta mendapat teguran
dari guru untuk meningkatkan prestasi lagi.
Selain
itu, akibat lainnya adalah karena tidak bisa mengerjakan ulangan dengan baik atau ingin mendapat nilai
yang memuaskan, akhirnya menimbulkan keinginan untuk melakukan contek –
menyontek, kerjasama dengan teman yang lebih pintar, ataupun membuat kunci
jawaban sebelum ulangan.
Saat
saya belajar dengan konsentrasi di kelas dan mendengarkan saat guru menjelaskan
materi serta mengerjakan soal latihan dengan serius, dampak baiknya adalah saya
bisa mengerjakan soal ulangan dengan baik dan lancar sehingga mengerjakannya
pun dengan pikiran dan hati yang tenang. Saat nilai ulangan dibagikan pun hasilnya
memuaskan sehingga perasaan terbawa senang.
Saat
dibagikan nilai raport, hasilnya tidak mengecewakan orang tua dan guru terutama
diri sendiri, mendapat pujian dari teman dan menimbulkan rasa bangga
tersendiri, dan meningkatnya prestasi belajar, serta mendorong saya untuk lebih
maju lagi dalam hal prestasi sehingga mendapat posisi sepuluh besar. Tetapi
dengan posisi tersebut, menjadikan saya untuk disiplin dalam belajar dan
mencapai target tiga besar.
Jadi
untuk mendapatkan nilai yang baik dan meningkatkan prestasi dalam belajar, ada
beberapa hal yang bisa kita lakukan yaitu membentuk kegiatan belajar kelompok
bersama teman, selalu aktif bertanya pada guru jika belum paham/mengerti
materinya, dan selalu aktif menjawab pertanyaan dari guru, serta disiplin dalam
mengerjakan tugas/PR yang diberikan guru pada kita.
Sebenarnya
menurut saya, belajar dengan hati memang gampang – gampang sulit. Kenapa? Karena yang saya alami, belajar itu mudah
apabila bisa konsentrasi penuh dan berusaha untuk tidak melirik kiri kanan.
Artinya tidak mengikuti keinginan diri sendiri melainkan mengikuti keinginan hati
nurani dan niat untuk menuju masa depan yang sukses dan gemilang.
Comments
Post a Comment